Konsumsi Energi Meningkat di Industri UMKM, Pemerintah Gandeng Peneliti Universitas Pertamina Hasilkan Pellet RDF

Universitas Pertamina – Setiap tahunnya, kebutuhan industri terhadap energi terus meningkat terlebih pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang pertumbuhannya terus berkembang di Indonesia. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mencatat sampai dengan 2021 terdapat 59,2 juta pelaku. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa dari berbagai industri, konsumsi energi yang paling berasal dari industri makanan sebesar 18,5%. 

Besarnya kebutuhan energi di industri makanan termasuk UMKM menjadikan pemerintah terus berupaya menyediakan energi untuk mengakomodasi kebutuhan, termasuk salah satunya melalui pengelolaan energi alternatif seperti sampah. Jumlah sampah yang meningkat setiap tahun dan diperkirakan pada tahun 2022, terdapat 68 juta ton sampah, tentu menjadi peluang bagi pemerintah kota untuk mengembangkan sampah menjadi energi alternatif. 

Melalui teknologi Refused Derived Fuel (RDF), Pemerintah Kota Depok bekerja sama dengan tim peneliti Universitas Pertamina berupaya untuk mengelola sampah menjadi bahan bakar yang dapat digunakan oleh UMKM di Kota Depok. Pellet RDF yang dihasilkan oleh Koko dan peneliti lainnya telah digunakan oleh UMKM di bidang produksi tahu. Pellet RDF yang dihasilkan tentu menjadi titik terang bagi sejumlah industri rumah tangga lainnya untuk menggunakan pellet dari limbah kertas atau kayu karena lebih murah dibandingkan dengan menggunakan batu bara. Harga pelet hanya Rp300 per kg, harga batu bara mencapai Rp700 per kg. 

Dengan menggunakan teknologi rotary dryer yang ada di Kampus energi terbaik , tim peneliti menggunakan berbagai sampah yang ada, mulai dari sisa makanan, sampah plastik, sampah kertas, dan sampah kebun, untuk dijadikan energi bagi para umkm.  Penelitian yang dipimpin oleh I Wayan Koko, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, menyatakan bahwa sebelum sampah diolah menjadi energi yang dapat digunakan oleh umkm, sampah harus dipilah berdasarkan karakteristik, nilai kadar air dan nilai kalor yang terkandung dalam sampah. Dari berbagai jenis sampah yang ada, tim peneliti menemukan bahwa sampah kertas dan sampah perkebunan seperti kayu dan ranting, masih menjadi limbah terbaik untuk pembuatan pellet RDF. 

“Pemilihan jenis sampah tersebut karena sampah kertas belum termanfaatkan dan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sampah taman, karena dibuat dari serat kayu, dan memberikan bahan bakar kualitas kepadatan yang baik. Kertas memiliki nilai kalor 3024 kkal/kg yang dapat digunakan sebagai pelet RDF. Lebih lanjut, kandungan limbah kertas dan sisa tumbuhan pada pellet RDF akan meningkatkan kekuatan struktur pellet, membuat pellet lebih awet, dan ramah lingkungan,” ungkap Koko dalam wawancaranya (15/2/2022). 

Seperti metode RDF lainnya, sampah yang dihasilkan dikumpulkan di tempat pengelolaan sampah terpadu kemudian dipisahkan sesuai dengan jenisnya, untuk selanjutnya dilakukan pengeringan dan pencacahan. Koko bersama dengan peneliti dan Pemerintah Kota Depok menggunakan variasi berbagai jenis sampah, mulai dari makanan, kertas, sampah tanaman, dan makanan. Dari berbagai jenis sampah yang ada, sampah makanan memiliki kadar air yang paling tinggi, sehingga dibutuhkan pengeringan dan pengolahan lebih lanjut sebelum masuk ke tahap peletisasi. 

Saat ini, Koko bersama dengan peneliti sedang mengembangkan RDF pelet dari limbah makanan dan juga feses. Bagi pelajar SMA/sederajat yang tertarik pada isi pengelolaan sampah dan lingkungan, dapat menjadikan Prodi Teknik Lingkungan Universitas pertamina sebagai pilihan. Saat ini Universitas Pertamina membuka pendaftaran penerimaan calon mahasiswa baru tahun 2022 dan membuka tiga program beasiswa senilai 2,5 Miliar. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui https://universitaspertamina.ac.id/beasiswa